Kuatkan Nilai-Nilai Literasi, Sekolah Literasi Indonesia Ajak Penggiat Literasi Indonesia Angkatan 6 Ikuti Gelar Wicara Literasi Nasional di Perpusnas RI

Kuatkan Nilai-Nilai Literasi, Sekolah Literasi Indonesia Ajak Penggiat Literasi Indonesia Angkatan 6 Ikuti Gelar Wicara Literasi Nasional di Perpusnas RI

Jakarta – Memperkuat jejaring, kapasitas, dan kolaborasi, Sekolah Literasi Indonesia (SLI) menghadirkan program Penggiat Literasi Indonesia (PELITA) SLI Angkatan 6 sebagai ruang pembinaan dan pengoptimalan kapasitas para penggerak literasi agar mampu membangun program berdampak dan berkelanjutan di wilayahnya.

 

 

PELITA Angkatan 6 yang berasal dari Kabupaten Agam, Kabupaten Solok, Kabupaten Bogor, Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Ende akan mengikuti beragam kegiatan guna menguatkan nilai-nilai SLI, salah satunya Gelar Wicara Literasi Nasional yang dilaksanakan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI), Daerah Khusus Jakarta, pada Jumat (17/04). Selain PELITA SLI, kegiatan tersebut pun diikuti 70 peserta perwakilan pengurus TBM di wilayah Jabodetabek, pengurus Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB), dan umum.

 

 

Mengusung tema “Menggerakkan Literasi, Membangun Kawasan, Memberdayakan Masyarakat”, gelar wicara dibuka langsung Dr. Ahmad Juwaini, Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa Republika. Kegiatan ini turut menghadirkan narasumber terbaik di antaranya Prof. E. Aminuddin Aziz, M.A., Ph.D., Kepala Perpustakaan Nasional RI;  Herlina Mustikasari, M.A., Ph.D., Ketua Umum Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca; Dr. Nero Taopik A.,M.Pd., Ketua Pengurus Pusat Forum TBM; serta Haryo Mojopahit, Kepala Divisi Pengembangan Program Riset dan Budaya GREAT Edunesia.

 

 

Gelar wicara itu juga dihadiri Prof. Yudi Latif, MA., Ph.D., Dewan Pembina Yayasan Dompet Dhuafa Republika yang memberikan pidato kunci bertema “Literasi sebagai Fondasi Perubahan Sosial dan Jalan Menuju Masyarakat Madani”.

 

Menurut Andi Ahmadi, Ketua SLI, Gelar Wicara Literasi Nasional digadang mampu memperkuat kapasitas, jejaring, dan visi PELITA SLI demi mengembangkan ekosistem literasi berbasis kawasan mandiri dan berkelanjutan, supaya terwujud masyarakat berdaya. Ia mengatakan bahwa SLI berkomitmen mengembangkan budaya literasi berbasis kawasan melalui pemberdayaan aktor lokal untuk mengembangkan berbagai aspek dimensi literasi dengan menyelaraskan kegiatan literasi ke intra, ekstra, dan kokurikuler.

 

Dalam pidato kuncinya Prof. Yudi Latif menyampaikan dengan basis literasi yang kuat msyarakat bisa menjelajah dimensi-dimensi pengetahuan, namun perlu adanya penggerak literasi. Baginya lewat penggerak literasi akan tercipta epistemic community. Ia berharap kehadiran PELITA SLI dapat menciptakan wahana budaya baca di masyarakat sehingga melahirkan karya produktif demi menyongsong masa depan Indonesia lebih baik. Sedangkan Ahmad Juwaini dalam sambutannya menggarisbawahi  kalau penggiat literasi dihadapkan pada tantangan mengajak anak-anak atau remaja tertarik membaca buku di tengah masifnya informasi serta tren konten kekinian saat ini. Tantangan literasi, tandasnya, bukan hanya tentang konten tetapi juga bagaimana penggiat literasi membawakannya secara lebih menarik.

Di sesi Gelar Wicara Hertika Mustikasari menyoroti jika gerakan literasi yang berhasil adalah yang tumbuh dari masyarakat, bukan yang dipaksakan dari atas, tantangan bagi PELITA SLI ialah menciptakan ekosistem yang konsisten. Sementara itu Prof. Aminuddin Aziz mengungkapkan program literasi ialah program bersama namun sayangnya jarang yang ingin mengerjakannya  bersama-sama, menurutnya sekarang sudah ada SLI, Relawan Literasi Masyarakat (Relima), GPMB, ada macam-macam program mari gerakan bersama-sama. Di sisi lain Dr. Nero Taopik menyibak fakta bahwasanya TBM bukan hanya tempat membaca, tetapi ruang aktivitas sosial, kreativitas, dan pemberdayaan, sebab itulah butuh sinergi agar memberikan dampak luar biasa. Seraya meng-aamiin-i penuturan narasumber lain, Haryo Mojopahit menandaskan bahwa GREAT Edunesia siap mengerahkan para para penerima beasiswa dari lima program untuk memaksimalkan literasi di daerah supaya bisa mengintegrasi gerakan di masyarakat, sekolah, dan keluarga.

 

 

Andi Ahmadi menjelaskan selain Gelar Wicara Literasi Nasional, 15 orang PELITA SLI akan mengikuti Temu PELITA SLI sebagai proses pembinaan yang dirancang intensif selama tiga hari lewat penguatan kapasitas, praktik literasi harian, serta kunjungan pembelajaran ke TBM percontohan pemberdayaan. Kegiatan Temu PELITA SLI, sambung Andi, bukan sekadar ajang berkumpul, melainkan momentum penguatan peran penggiat literasi melahirkan gagasan, energi baru, dan berimbas luas di daerah.

Program PELITA besutan SLI membuktikan bahwa KolaborAksi antara banyak pihak mampu membawa perubahan signifikan di bidang literasi di daerah. Andi berharap langkah itu menjadi awal dari gerakan literasi masif dan berdampak di seluruh Indonesia

Facebook
Twitter
LinkedIn

Slide
BAKTI NUSA Siap Lepas 57 Penerima Manfaatnya dalam National Mission Bogor – BAKTI NUSA…
Apresiasi National Mission 2021, Anies Baswedan: “Sebuah Semangat yang Amat Baik” Bogor – Apresiasi…
Will it be Worth It? Will it be Worth It? – Long story short,…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *