Monitoring ADAB Project di SDN 06 Wonosari: Sekolah Kecil, Dampak Besar bagi Setiap Anak

Monitoring ADAB Project di SDN 06 Wonosari: Sekolah Kecil, Dampak Besar bagi Setiap Anak

 

Musi Rawas – Sekolah Guru Indonesia (SGI) berupaya menciptakan pendidikan bermakna di kelas. SGI meyakini jika kegiatan belajar mengajar tidak selalu lahir dari sekolah yang memiliki siswa banyak, seperti di SDN 06 Wonosari, Musi Rawas, Sumatra Selatan, di mana hanya ada total 30 siswa saja, hal tersebut terlihat di kegiatan monitoring implementasi ADAB Project yang menjadi bagian dari praktik baik SGI.

 

 

Utari Akhir Gusti, Koordinator SGI, mengatakan kegiatan monitoring implementasi ADAB Project menjadi momentum untuk melihat sekaligus merefleksikan bagaimana proses pendidikan dijalankan di tengah keterbatasan jumlah siswa dan kondisi sekolah. Meskipun total siswa hanya 30, tambah Utari, namun para guru memiliki ruang lebih dekat mengenal, mendampingi, dan menumbuhkan potensi setiap anak.  SDN 06 Wonosari menunjukkan bahwa sekolah kecil bukan berarti memiliki dampak kecil, justru kondisi itu membuka kesempatan guru memberikan perhatian ke setiap peserta didik.

 

 

Ia mengatakan, di balik 30 siswa, terdapat 30 cerita, karakter, kebutuhan, dan potensi yang berbeda; ada anak yang datang ke sekolah penuh semangat, ada yang masih membutuhkan keberanian bermimpi, dan ada pula yang memerlukan dorongan agar selalu percaya bahwa dirinya mampu berkembang. Sebab itu lah, peran guru tidak berhenti pada kegiatan mengajar dan menyampaikan pengetahuan, di sini guru juga bertanggung jawab mendampingi anak berproses, mengenali potensi, serta menciptakan ruang supaya setiap anak berkembang sesuai dengan kemampuannya.

 

 

Monitoring implementasi ADAB Project di SDN 06 Wonosari juga melibatkan fasilitator Sekolah Guru Indonesia Angkatan 52 Musi Rawas. Kehadiran fasilitator bukan sekadar melihat sejauh mana program telah dilaksanakan, tetapi menjadi bagian dari proses pendampingan dan penguatan praktik baik yang telah dilakukan oleh sekolah. Melalui monitoring, ujar Utari, fasilitator hadir untuk mendengarkan pengalaman guru, melihat proses yang berlangsung di lapangan, melakukan refleksi, sekaligus memberikan penguatan terhadap berbagai upaya yang telah dilakukan.

 

 

Pendampingan tersebut, timpal Utari, menjadi penting karena praktik baik dalam pendidikan tidak selalu harus hadir dalam bentuk program besar. Perubahan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dan berorientasi pada kebutuhan anak.

 

 

SDN 06 Wonosari menjadi salah satu gambaran bahwa keterbatasan fasilitas, jumlah siswa, maupun kondisi sekolah tidak semestinya menjadi alasan untuk berhenti memberikan pendidikan terbaik. Sebaliknya, ruang sederhana dapat menjadi tempat tumbuhnya mimpi-mimpi besar ketika guru hadir dengan kepedulian, ketekunan, dan kemauan untuk terus belajar. Sebab, setiap murid bukan sekadar angka dalam daftar hadir, di dalam diri mereka terdapat cerita, potensi, dan masa depan yang layak diperjuangkan.

 

Facebook
Twitter
LinkedIn

Slide
BAKTI NUSA Siap Lepas 57 Penerima Manfaatnya dalam National Mission Bogor – BAKTI NUSA…
Apresiasi National Mission 2021, Anies Baswedan: “Sebuah Semangat yang Amat Baik” Bogor – Apresiasi…
Will it be Worth It? Will it be Worth It? – Long story short,…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *