Kurangi Limbah Ikan dan Berdayakan Peternak Ikan, 3 Penerima Beasiswa Etos ID Gondol Bronze Medal di National Essay Competition 2026

Malang – Tiga penerima beasiswa Etos ID asal Ambon kembali menorehkan prestasi membanggakan. Adalah Wisnu, Larastika Bahri, dan Wa Ode Erni yang berhasil meraih Bronze Medal National Essay Competition (NESCO) 2026.
Kegiatan yang digelar Pusat Riset Siswa, Mahasiswa dan Akademisi (PRISMA) bekerja sama dengan Fakultas Sains dan Teknologi Informasi Universitas Widya Gama dan Universitas Negeri Malang tersebut dilaksanakan di Malang Creative Center dan diikuti ratusan mahasiswa berprestasi se-Indonesia. Mengusung tema Solusi Kreatif Pemuda untuk Mewujudkan Indonesia yang Berdaya Saing Global, kompetisi ini menjadi wadah bagi generasi muda menuangkan ide-ide inovatif dalam bentuk esai yang solutif dan aplikatif.
Dalam kompetisi ini, ketiganya mengusung gagasan inovatif bertajuk Dari Limbah Menjadi Lumbung: Revolusi Ekonomi Pesisiri Melalui Bank Limbah Pangan Pesisir (BLPP) 4.0 – Smart Sociopreneurship. Gagasan ini berfokus pada pemanfaatan limbah ikan yang dihasilkan dari aktivitas pasar pesisir di Pasar Mardika yang selama ini belum dikelola secara optimal dan berpotensi mencemari lingkungan.
Erni menjelaskan bahwa inovasi tersebut dirancang sebagai solusi dalam mengembangkan sistem BLPP 4.0 supaya limbah ikan menjadi produk bernilai ekonomi melalui proses biokonversi. Limbah ikan diolah menggunakan maggot (larva lalat Black Soldier Fly) yang mampu mengurai limbah organik secara cepat dan efisien. Ia menambahkan jika hasil dari proses ini berupa maggot yang dimanfaatkan sebagai pakan ikan berkadar protein tinggi, sehingga dapat menjadi alternatif pakan murah bagi nelayan. Selain itu, timpalnya, residu pengolahan (kasgot) dapat digunakan sebagai pupuk organik.
Inovasi itu, sambung Erni, diperkuat dengan pendekatan smart sociopreneurship, yaitu integrasi teknologi seperti IoT dan analisis berbasis AI untuk monitoring produksi, serta pemberdayaan masyarakat pesisir agar tercipta sistem yang berkelanjutan, bernilai ekonomi, dan berdampak sosial.
Larastika menambahkan bahwa inovasi yang mereka kembangkan mampu mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembuangan limbah ikan ke laut, memanfaatkan limbah menjadi produk maggot sebagai pakan berprotein tinggi, menghemat biaya nelayan, atau peternak ikan khususnya dalam penyediaan pakan ikan serta meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar Pasar Mardika, dan memberdayakan pemuda setempat dan juga mengintegrasikan teknologi dalam menyejahterakan nelayan. Ia ingin peternak ikan bisa memanfaatkan limbah ikan agar memiliki tambahan sekaligus meminimalkan pencemaran lingkungan, dan memaksimalkan lapangan pekerjaan baru.
Wisnu menyampaikan tak menyangka mendapat Bronze Medal mengingat saingannya mahasiswa hebat dari seluruh Indonesia. Keberhasilan ketiganya diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus berinovasi dan berprestasi, khususnya dalam memanfaatkan teknologi sebagai solusi terhadap berbagai permasalahan di bidang lingkungan.