Hadirkan Ruang Belajar Pahami Isu Kesehatan Mental, Sekolah Guru Indonesia Gelar Webinar Psikoedukasi Digital Parenting

Bogor – Meningkatkan pemahaman orang tua dan guru tentang parenting di era digital yang berorientasi pada kesehatan mental anak dan siswa, Sekolah Guru Indonesia (SGI) menggelar Webinar Psikoedukasi Digital Parenting yang dilaksanakan daring.
Webinar Psikoedukasi Digital Parenting dirancang sebagai ruang belajar bersama bagi orang tua dan guru untuk memahami isu kesehatan mental anak di era digital, mengenali tanda-tanda awal gangguan psikologis pada siswa, serta mempelajari langkah-langkah pendampingan awal (treatment dasar) tepat sesuai peran masing-masing.
Ade Munawar Lutfi, Koordinator SGI, menyampaikan jika kegiatan ini juga menekankan pada pentingnya penguatan resilience anak dan siswa agar mampu menghadapi tantangan, mengelola emosi, serta tumbuh menjadi individu sehat secara mental dan sosial di tengah kompleksitas era digital. Menurut Ade, perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar di pola tumbuh kembang anak, namun anak belum sepenuhnya memiliki kesiapan emosional, sosial, dan literasi digital memadai.
Kegiatan tersebut diikuti aktivis SGI, Guru Pemimpin seluruh Indonesia, kepala sekolah serta dibersamai Guru Yulaeha, SGI Angkatan 45, yang membahas parenting di era digital dan kesehatan mental anak; dan Guru Nadia, Zillenial Teacher, yang membahas pendekatan trauma-informed dan penguatan resilience siswa. Keduanya disinyalir memperkuat peran orang tua dan guru guna membangun daya anak melalui kehadiran orang dewasa yang suportif dan berempati di rumah maupun di sekolah.
Dalam materinya Guru Yulaeha menjelaskan pemahaman dasar tentang parenting di era digital serta keterkaitannya dengan kesehatan mental anak dan siswa, termasuk fenomena anxiety, gangguan emosi, dan perubahan perilaku di rumah maupun di sekolah. Ia menyampaikan ingin orang tua bisa mengenali tanda-tanda awal permasalahan psikologis pada anak/siswa.

Sedangkan Guru Nadia meyoroti peran guru dan orang tua ketika menghadapi anak atau siswa yang mengalami tekanan psikologis akibat ketiadaan figur orang dewasa yang hadir secara emosional, serta menjelaskan batas dan bentuk pendampingan awal (treatment dasar) yang aman dan etis. Ia berkeinginan para orang tua memahami peran dan batasannya ketika melakukan pendampingan awal tanpa menggantikan peran tenaga profesional kesehatan mental.
Keduanya menegaskan, isu parenting tidak lagi hanya berkaitan dengan pengaturan waktu layar (screen time), tetapi juga menyentuh aspek kesehatan mental anak. Guru semakin sering berhadapan dengan siswa yang menunjukkan gejala kecemasan (anxiety), gangguan emosi, perubahan perilaku ekstrem, hingga indikasi gangguan psikologis.
Setelah mengikuti Webinar Psikoedukasi Digital Parenting Ade berharap para Guru Pemimpin dan orang tua mampu menghadirkan ruang aman, relasi hangat, serta pendampingan berempati di rumah dan di sekolah. Bagi Ade upaya kecil namun konsisten diyakini sanggup menjadi fondasi penting bagi tumbuh kembang anak yang sehat, tangguh, dan berdaya di era digital.