Guru Adalah Penguat: Guru Wiwin Tanamkan Pentingnya Toleransi di Kelas
Maluku – Guru Wiwin, Guru Pemimpin Sekolah Guru Indonesia (SGI) yang saat ini mengajar di SDN Dufo Maluku Utara mengatakan jika di ruang kelas sederhana para siswa menanam mimpi besar. Untuk Guru Wiwin menjadi guru di daerah bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hati.
Setiap hari Guru Wiwin menempuh perjalanan jauh menuju sekolah, melewati akses yang tidak selalu mudah. Di Ramadan, perjuangannya makin terasa namun satu hal yang tidak pernah berkurang adalah semangatnya untuk tetap hadir tepat waktu dan memberikan yang terbaik bagi anak-anak. Ia mengatakan dari tulusnya hati akan lahir generasi kuat dan berakhlak.
Semangat Guru Wiwin tersebut didapatkan ketika ia menjadi bagian SGI angkatan 43, di mana SGI berkomitmen memberdayakan dan meningkatkan kualitas guru karena kualitas guru merupakan kunci perbaikan kualitas pembelajaran dan pendidikan nasional.
Bulan Ramadan, kata Guru Wiwin, mengajarkan bahwa menjadi guru bukan sekadar menyampaikan materi. Guru adalah penguat, pendengar, sekaligus penyemangat. Ia belajar bahwa ketulusan lebih kuat daripada fasilitas, dan kepedulian lebih bermakna daripada sekedar teori pembelajaran.
Di kelas Guru Wiwin berikhtiar menanamkan toleransi kepada para siswanya, mengingat sekolah tempatnya mengajar lintas agama. Momen paling berkesan baginya adalah ketika siswa Muslim menegur lembut siswa Kristen yang ingin makan mangga di kelas, atau ketika siswa Kristen mengingatkan yang Muslim untuk tidak berbuka puasa sebelum waktunya, tindakan sederhana itu menjadi bukti bahwa nilai toleransi benar- benar tumbuh di hati mereka, bahkan di kelas pun mereka lebih tertib. Guru Wiwin mengaku bahagia sebab berhasil menanamkan nilai toleransi di kelas.
Guru Wiwin percaya, menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan materi. Guru adalah penguat, pendengar, sekaligus penanam harapan. Di ruang kelas sederhana Guru Wiwin dan warga SDN Dufo sedang menumbuhkan mimpi-mimpi besar. Karena dari hati yang tulus, akan lahir generasi yang kuat dan berakhlak
Di ruang kelas yang sederhana, dengan fasilitas yang terbatas, kami tetap menyalakan cahaya pembelajaran. Pesantren Ramadan tetap berjalan, bukan hanya sebagai kegiatan rutin, tetapi sebagai ruang untuk menanamkan nilai. Nilai kesabaran, keikhlasan, dan kebersamaan.