Dari Proses Panjang Menuju Layar Festival, Film Besutan Dian Masuk Nominasi Festival Film Makassar  

Dari Proses Panjang Menuju Layar Festival, Film Besutan Dian Masuk Nominasi Festival Film Makassar

Makassar – Dian Fakhirah Nur Adiyat berhasil menorehkan pencapaian membanggakan dalam ajang Festival Film Makassar (FFM) bertajuk Suara dari Timur. Bersama tim kreatifnya, ia sukses membawa film pendek berjudul ‘Aku Bukan Boneka! Aku? Bukan Boneka?’ masuk dalam nominasi resmi festival setelah melewati proses kurasi yang diikuti berbagai komunitas dan pegiat cinema dari berbagai daerah.

 

Film tersebut digarap selama kurang lebih dua bulan, mulai dari tahap pra production hingga pasca production. Dalam proses penggarapan karya ini, Dian mengambil peran sebagai asisten camera person yang terlibat langsung dalam pembangunan visual cerita dan dinamika produksi di lapangan. Meski berada di balik layar, pengalaman tersebut menjadi ruang belajar besar baginya untuk memahami bagaimana sebuah film dibangun melalui detail, emosi, dan kerja sama tim yang kuat.

 

Melalui film ‘Aku Bukan Boneka! Aku? Bukan Boneka?’ Dian dan tim mengangkat isu perempuan tentang ekspektasi yang sering kali dibebankan sejak masa kecil. Permainan boneka yang identik dengan dunia anak-anak digunakan sebagai metafora atas impian, tuntutan sosial, dan gambaran masa depan yang perlahan berubah ketika berhadapan dengan realita kehidupan dewasa. Film ini menampilkan pergulatan seorang perempuan dalam menghadapi kenyataan bahwa meraih pekerjaan dan kehidupan yang diimpikan tidak semudah yang pernah dibayangkan sebelumnya.

 

Kekuatan penceritaan yang emosional dan dekat dengan realitas sosial membuat film tersebut berhasil mendapat perhatian dalam Festival Film Makassar 2025. Setelah dinyatakan lolos kurasi dan masuk nominasi FFM 2025, karya ini juga berhasil meraih penghargaan sebagai film dengan penceritaan terbaik karena dinilai mampu menghadirkan isu perempuan secara sederhana, reflektif, dan menyentuh banyak penonton

 

Melalui pengalaman tersebut, Dian percaya bahwa film bukan sekadar media hiburan, melainkan ruang untuk menyampaikan suara, keresahan, dan realita sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Ia berharap karya-karya seperti ini dapat terus menjadi pengingat bahwa cerita sederhana pun mampu membawa dampak besar ketika disampaikan dengan ketulusan dan keberanian untuk bersuara.

Facebook
Twitter
LinkedIn

Slide
BAKTI NUSA Siap Lepas 57 Penerima Manfaatnya dalam National Mission Bogor – BAKTI NUSA…
Apresiasi National Mission 2021, Anies Baswedan: “Sebuah Semangat yang Amat Baik” Bogor – Apresiasi…
Will it be Worth It? Will it be Worth It? – Long story short,…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *