Pulihkan Pendidikan Sumatra, GREAT Edunesia Dompet Dhuafa Lepas Tim Respon Darurat Pendidikan
Jakarta – Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Sumatra tidak hanya meluluhlantakkan infrastruktur, tetapi juga memberikan pukulan telak bagi sektor pendidikan. Merespons kondisi darurat tersebut, GREAT Edunesia Dompet Dhuafa secara resmi menerjunkan tim Respon Darurat Pendidikan (RDP) untuk memastikan hak pendidikan anak-anak penyintas tetap terpenuhi di tengah krisis.
Pelepasan ini menjadi momentum krusial bagi misi kemanusiaan. Ketua RDP GREAT Edunesia Dompet Dhuafa, M. Shirli Gumilang, menegaskan bahwa tim yang diberangkatkan membawa misi yang jauh lebih besar daripada sekadar bantuan fisik.
“Bencana ini merupakan pukulan telak bagi pendidikan kita. Angka 1.106 korban dan 175 orang yang masih belum ditemukan bukan hanya sekadar data statistik. Di balik angka itu, ada masa depan yang terancam,” tegas Shirli dalam orasinya.
Ia menambahkan bahwa agenda pelepasan ini bukan sekadar seremonial belaka. “Ini adalah kabar kepada masyarakat luas bahwa Sumatra belum pulih. Saudara-saudara kita di sana masih membutuhkan uluran tangan dari semua pihak,” lanjutnya.
Dalam misi ini, GREAT Edunesia membawa tujuh program intervensi utama. Program tersebut mencakup pendirian Sekolah Darurat, distribusi perlengkapan sekolah, serta program ‘Sekolah Ceria’ untuk mengembalikan senyum anak-anak. Selain itu, relawan juga dibekali kemampuan Psychological First Aid (PFA) untuk pemulihan trauma psikososial siswa dan guru, layanan vokasi, renovasi sekolah, hingga Kelas Literasi Kreatif (KLiK) Kebencanaan.
Mulyadi Saputra, Deputi Direktur 1 GREAT Edunesia, menekankan pentingnya sinergi dalam penanganan bencana ini.
“GREAT Edunesia dan Dompet Dhuafa tidak bisa bergerak sendiri. Kita bergandeng tangan dan berkolaborasi dengan semua pihak untuk membantu saudara kita di Sumatra. Ini adalah panggilan kemanusiaan bagi kita semua,” ujar Mulyadi.
Kunci keberhasilan intervensi di lapangan sangat bergantung pada kualitas para relawan. Bobby Manullang, perwakilan Command Center Dompet Dhuafa, mengingatkan para relawan untuk menanamkan nilai keramahtamahan (hospitality) saat bertugas.
“Relawan harus memiliki kemampuan hospitality di lokasi bencana. Artinya, harus punya empati tinggi kepada para penyintas dan mampu melebur menjadi bagian dari masyarakat,” pesan Bobby.
Menurutnya, penerimaan masyarakat adalah kunci agar relawan bisa menjadi penggerak perubahan. “Relawan harus mampu mendengar curhatan penyintas dan menjadi penggerak. Hanya dengan cara itu kita bisa diterima dan bersama-sama membangkitkan semangat mereka,” tambahnya.
Salah satu sorotan utama dalam pelepasan ini adalah seremonial penyerahan Modul Ajar KLiK Kebencanaan. Modul ini dirancang sebagai panduan praktis bagi relawan dan pendidik lokal dalam menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar yang adaptif di situasi krisis.
Prosesi pelepasan ditutup dengan penyematan jaket relawan secara simbolis oleh Mulyadi Saputra dan Bobby Manullang kepada Asep Ihsanudin yang ditugaskan ke wilayah Sumatra Utara, Riki Hardiansyah ke Aceh dan M.Shiri Gumilang ke Sumatra Barat,serta konferensi pers yang menegaskan transparansi dan kesiapan publikasi atas respons darurat yang dijalankan.
Misi ini diharapkan menjadi langkah awal yang kuat untuk memulihkan denyut nadi pendidikan di wilayah terdampak, memastikan bahwa bencana tidak merenggut masa depan generasi penerus di Sumatra.