Perkuat Literasi Pascabencana, Sekolah Literasi Indonesia (SLI) Bekali Fasilitator untuk Dampingi Sekolah di Pidie Jaya dan Aceh Utara

Banda Aceh — Sekolah Literasi Indonesia (SLI) berkolaborasi dengan Respon Darurat Pendidikan (RDP) Dompet Dhuafa serta Forum TBM Provinsi Aceh menggelar Pembekalan Fasilitator Program Pembelajaran Esensial Pascabencana Berbasis Literasi di Banda Aceh. Kegiatan ini menjadi bagian dari persiapan program pelatihan dan pendampingan bagi sekolah dan komunitas belajar di wilayah terdampak banjir Aceh, khususnya Pidie Jaya dan Aceh Utara.
Program tersebut nantinya akan berlangsung di empat titik di Pidie Jaya dan satu titik di Aceh Utara dengan total peserta sebanyak 75 orang yang merupakan guru SD dan MI serta penggiat Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Maya Safitri, Koordinator SLI, mengatakan jika kondisi pascabencana membutuhkan pendekatan belajar yang tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga memberi ruang bagi anak kembali merasa nyaman, berekspresi, dan membangun semangat belajar. Karena itu, lanjut Maya, pembelajaran perlu dikemas secara kreatif, menyenangkan, serta dekat dengan kebutuhan anak.

Bersama Andi Ahmadi, Ketua Sekolah Literasi Indonesia, para peserta mendapatkan penguatan mengenai aktivitas literasi kreatif dan menyenangkan yang mampu menguatkan kompetensi esensial bagi anak jenjang SD. Peserta juga dibekali keterampilan dalam memberikan pelatihan bagi guru-guru di wilayah sasaran. Materi disampaikan secara interaktif melalui diskusi, kerja kelompok, serta simulasi sehingga peserta dapat menghubungkan konsep yang dipelajari dengan situasi yang mungkin mereka temui di lapangan.

Rahmiana, Koordinator TBM Aceh turut menyoroti pentingnya kolaborasi antara sekolah, TBM, fasilitator, dan masyarakat. Menurutnya, gerakan literasi tidak dapat berjalan sendiri, terlebih di situasi pascabencana. Ruang belajar perlu kembali dihidupkan melalui kerja bersama agar anak-anak tetap memiliki kesempatan untuk membaca, berinteraksi, dan belajar dengan cara yang menyenangkan.
Maya menekankan bahwa peran fasilitator bukan sekadar menyampaikan materi namun memahami kondisi lapangan dan kebutuhan guru sebelum menentukan pendekatan yang tepat. Literasi bukan hanya tentang membaca buku, timpalnya, anak juga perlu diberi ruang bercerita, berpikir, menciptakan sesuatu, membaca lingkungan, dan membangun kembali rasa percaya diri.

Setelah sesi pembekalan dan diskusi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pembagian tim fasilitator berdasarkan titik pendampingan di Pidie Jaya dan Aceh Utara. Pembagian ini menjadi langkah awal mempersiapkan tim sebelum terjun langsung ke sekolah dan komunitas sasaran.
Melalui pembekalan ini, SLI bersama pegiat literasi Aceh berharap para fasilitator mampu menghadirkan pendampingan yang adaptif dan bermakna, sekaligus membantu sekolah dan komunitas kembali membangun ruang belajar yang kreatif bagi anak-anak di wilayah terdampak bencana.


