Menjadi Wakil Presiden BEM Universitas Airlangga, Shintya Maksimalkan Kontribusi Lewat Suaka Toer
Surabaya – Di tengah menjalankan banyak peran sebagai mahasiswa tingkat akhir, ketika sebagian besar mahasiswa fokus menyelesaikan studinya; Shintya Iftitah Dzikrullah, penerima Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA) justru berani mengambil langkah yang tidak mudah, menjadi Wakil Presiden BEM Universitas Airlangga.
Di satu sisi, skripsi tetap harus dituntaskan. Di sisi lain, tanggung jawab organisasi tidak bisa ditinggalkan. Bagi Shintya, ini bukan tentang merasa siap, melainkan tentang keberanian untuk mengambil peran dan bertanggung jawab atas pilihan yang diambil.
Sejak awal, Shintya melihat organisasi bukan sekadar tempat berkegiatan, melainkan ruang belajar yang paling nyata. Di sanalah ia belajar memimpin, mengasah kemampuan berbicara, dan memahami dinamika serta realitas di lapangan. Organisasi menjadi tempat Shintya bertumbuh, mengenal peran, dan perlahan membentuk cara pandangnya terhadap kepemimpinan.
Ketika dipercaya sebagai Wakil Presiden BEM, Shintya memahami bahwa peran ini bukan sekadar jabatan. Ini adalah tentang membawa suara mahasiswa, mengambil keputusan di tengah berbagai kepentingan, dan bertanggung jawab atas arah gerakan yang dijalankan. Kepemimpinan bukan tentang terlihat di depan, tetapi tentang hadir, mendengar, dan memberi dampak nyata bagi lingkungan yang dipimpin.
Pengalaman ini mengubah cara pandangnya— dari sekadar ingin bertumbuh, menjadi memiliki kesadaran untuk memberi manfaat. Shintya tidak lagi menunggu kesempatan datang, tetapi mulai menciptakan ruang untuk berdampak. Berangkat dari kepedulian terhadap rendahnya minat literasi, Shintya menggagas sebuah inisiatif bernama Suaka Toer.
Suaka Toer hadir sebagai ruang belajar alternatif bagi anak muda untuk membaca, berdiskusi, dan mengembangkan cara berpikir kritis. Lebih dari itu, ruang ini menjadi wadah untuk bertukar gagasan, memperluas perspektif, dan menumbuhkan kesadaran terhadap isu sosial.
Melalui Suaka Toer, tegasnya, mahasiswa mulai lebih aktif membaca, terlibat dalam diskusi, dan berani menyampaikan gagasannya. Ruang ini tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga membentuk cara berpikir yang lebih kritis dan reflektif. Dari proses tersebut, Shintya belajar bahwa dampak tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Namun, harus dibangun secara konsisten— dari ruang kecil yang terus dijaga hingga mampu memberi pengaruh yang lebih luas.