Mengatasi Keterbatasan Laboratorium, Moza Rasya Ananda Berbagi Inovasi Pembuatan Alat Praktikum Sederhana dengan Guru IPA
Lampung – Moza Rasya Ananda, penerima beasiswa Etos ID sekaligus mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Lampung didapuk menjadi pemateri dalam Lokakarya Pembuatan dan Pemanfaatan Alat-Alat Praktikum IPA dalam Menunjang Pembelajaran Mendalam yang diikuti guru IPA di Bandar Lampung.
Menurut Moza, tak sedikit guru IPA terbentur keterbatasan fasilitas laboratorium, hal tersebut menjadi tantangan guna menghadirkan pembelajaran bermakna. Hal itu tambahnya, membuat para guru harus menyesuaikan kegiatan praktikum karena minimnya alat atau terbatasnya akses terhadap laboratorium. Akibatnya, peserta didik lebih sering mengenal sains melalui buku daripada mengalaminya secara langsung.
Pada kesempatan ini, Moza tidak hanya berbagi materi, tetapi juga menawarkan sudut pandang bahwa pembelajaran yang baik tidak selalu bergantung pada laboratorium yang lengkap ataupun alat yang mahal. Baginya, keterbatasan fasilitas bukan alasan untuk mengurangi kualitas pembelajaran. Justru di tengah keterbatasan, guru dituntut semakin kreatif dalam menghadirkan pengalaman belajar yang mampu membangkitkan rasa ingin tahu peserta didik.
Melalui sesi demonstrasi, Moza dan tim memperkenalkan inovasi cara pembuatan alat praktikum sederhana yang dapat menjadi alternatif bagi guru untuk tetap menghadirkan pembelajaran yang aktif dan bermakna. Mulai dari mikroskop digital, inkubator, magnetic stirrer, centrifuge, hingga respirometer, setiap alat diperkenalkan beserta fungsi, cara penggunaan, serta contoh penerapannya dalam pembelajaran IPA.
Salah satu inovasi yang mendapat perhatian peserta adalah mikroskop digital. Berbeda dengan mikroskop konvensional yang mengharuskan peserta didik mengamati objek secara bergantian melalui lensa, mikroskop digital mampu menampilkan hasil pengamatan secara langsung pada layar laptop maupun proyektor. Hal ini memungkinkan seluruh peserta didik mengamati preparat yang sama secara bersamaan, sehingga proses diskusi menjadi lebih interaktif dan guru lebih mudah menjelaskan struktur atau objek yang sedang diamati.
Moza meyakini jika inovasi tidak selalu berarti menghadirkan teknologi rumit atau mahal. Inovasi adalah kemampuan menemukan cara agar setiap peserta didik tetap memiliki kesempatan belajar melalui pengalaman nyata, meskipun berada di tengah keterbatasan fasilitas.