Berangkat dari Pengalaman Pribadi, Damar Rukmana Kembangkan Generise Project: Gerakan Pencegahan Perundungan

Berangkat dari Pengalaman Pribadi, Damar Rukmana Kembangkan Generise Project: Gerakan Pencegahan Perundungan

 

Depok — Muhammad Damar Rukmana, penerima beasiswa Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA) konsisten menekuni pengabdian masyarakat melalui edukasi ruang aman di sekolah. Ia terus menunjukkan komitmennya dalam pengabdian masyarakat melalui Generise Project, sebuah gerakan edukasi yang berfokus pada pencegahan perundungan dan kekerasan sosial di lingkungan sekolah. Berangkat dari pengalaman pribadi saat mengalami perundungan di masa kecil, Damar memilih mengubah pengalaman tersebut menjadi inisiatif yang membantu anak-anak dan remaja mendapatkan ruang yang lebih aman untuk bertumbuh.

 

 

Komitmennya baru-baru ini mendapat apresiasi melalui Penghargaan Alumni Berprestasi di Bidang Pengabdian Masyarakat yang diberikan dalam acara Jumpa Almamater Sejarah UI 2026 pada 19 September 2026. Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas kontribusinya dalam bidang sosial dan pendidikan, khususnya melalui berbagai inisiatif pengabdian yang dijalankannya selama beberapa tahun terakhir.

 

 

Damar yang baru saja lulus dari Ilmu Sejarah Universitas Indonesia tumbuh di keluarga sederhana, ayahnya bekerja sebagai pengemudi ojek daring dan sang ibu berjualan seblak. Di tengah keterbatasan, ia terbiasa membantu orang tua bekerja dan berjualan, pengalaman yang membentuk kepekaannya terhadap perjuangan hidup dan pentingnya memberi dampak bagi sekitar.

Generise Project lahir dari keresahan Damar terhadap maraknya perundungan dan kekerasan sosial yang kerap dianggap sepele, padahal meninggalkan dampak besar bagi anak-anak. Melalui program ini, Damar bersama tim relawan mengembangkan pendekatan pendidikan karakter yang mengajak siswa untuk mengenali diri, memahami orang lain, berani mencari bantuan, dan ikut menciptakan lingkungan sekolah yang aman serta inklusif.

 

 

Salah satu implementasi Generise Project berlangsung di SMPN 31 Depok, dengan melibatkan pengurus OSIS sebagai peer educator atau pendidik sebaya. Dalam program ini, siswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga diajak terlibat aktif dalam diskusi, simulasi, permainan edukatif, dan aktivitas kelompok. Program Generise Project mencakup empat materi utama antara lain pengenalan lingkungan sosial, pencegahan perundungan,  pencegahan kekerasan seksual, dan manajemen emosi.

 

 

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Damar ingin mendorong lahirnya keberanian pada siswa untuk saling menjaga, saling mendukung, dan membantu teman yang mengalami kekerasan. Tidak Berhenti pada Edukasi, Generise Susun Modul Berkelanjutan. Dalam proses menjalankan program, Damar menyadari bahwa edukasi satu kali tidak cukup untuk menciptakan perubahan jangka panjang. Ia menemukan bahwa sebagian siswa masih kesulitan mengingat materi yang telah dipelajari, sementara guru membutuhkan panduan yang bisa digunakan setelah kegiatan relawan selesai.

Berangkat dari kebutuhan itu, Damar menginisiasi penyusunan Modul Pembelajaran Anti-Kekerasan Sosial, yang memuat materi inti dari kelas-kelas Generise sekaligus alur pelaporan kekerasan sosial di sekolah. Upaya ini juga diperkuat melalui kerja sama dengan UPTD PPA dan DP3AP2KB Kota Depok untuk mendukung perlindungan siswa secara lebih berkelanjutan.

 

 

Bagi Damar, keberhasilan sebuah program sosial bukan hanya diukur dari seberapa meriah pelaksanaannya, tetapi dari seberapa jauh manfaatnya bisa terus hidup setelah program selesai. Karena itu, Generise Project diarahkan tidak hanya menjadi kegiatan edukasi, tetapi juga menjadi model pendampingan yang dapat digunakan sekolah secara mandiri.

 

Selain Generise Project, Damar juga aktif dalam berbagai kegiatan pengabdian masyarakat lain, mulai dari pendidikan di sekolah, pendampingan anak-anak, hingga riset sosial. Ia pernah terlibat dalam Gerakan UI Mengajar di Blora, PLC Mengajar di Bogor, program pengajaran di SLB Negeri Kota Depok, serta menjadi bagian dari Ekspedisi Patriot 2025 oleh Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia.

 

 

Ragam pengalaman tersebut memperkuat pandangannya bahwa pengabdian masyarakat tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Menurutnya, perubahan sering kali lahir dari kesediaan untuk hadir, mendengar, dan merancang solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

 

 

Pengalaman internasional juga turut memperluas perspektif Damar. Pada 2026, ia mengikuti Seminar on Capacity Building for Young Leaders from ASEAN Countries di Tiongkok sebagai delegasi Indonesia dalam program dengan pendanaan penuh dari penyelenggara. Kesempatan tersebut semakin memperkuat minatnya pada isu kepemimpinan, pendidikan, dan pengembangan masyarakat, yang kemudian ia bawa kembali dalam penguatan program-program sosial yang dijalankannya di Indonesia.

 

 

Bagi Damar, kepemimpinan bukan semata tentang berdiri paling depan, tetapi tentang keberanian untuk mendengar, memahami, dan berjalan bersama orang lain. Prinsip inilah yang ia pegang dalam menjalankan Generise Project maupun berbagai bentuk pengabdian lainnya.

 

 

Penghargaan yang baru diterimanya dari Sejarah UI menjadi penanda bahwa kerja-kerja sosial yang selama ini ia tekuni mendapat pengakuan. Namun lebih dari itu, penghargaan tersebut menjadi pengingat bahwa pengabdian harus terus dirawat dan diperluas manfaatnya. Ke depan, Damar ingin terus mengembangkan Generise Project agar dapat menjangkau lebih banyak sekolah dan memberi kontribusi lebih besar dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, sehat, dan inklusif bagi anak-anak Indonesia.

 

Facebook
Twitter
LinkedIn

Slide
BAKTI NUSA Siap Lepas 57 Penerima Manfaatnya dalam National Mission Bogor – BAKTI NUSA…
Apresiasi National Mission 2021, Anies Baswedan: “Sebuah Semangat yang Amat Baik” Bogor – Apresiasi…
Will it be Worth It? Will it be Worth It? – Long story short,…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *