Rommi, Dorong Anak Daerah Menggapai Impian Berkuliah Lewat Sakola Kembara
Bandung – Rommi Adany Putra Afauly, alumni awardee Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA), mengembangkan fasilitas pendidikan gratis bagi anak-anak desa bernama Sakola Kembara. Sakola Kembala adalah sekolah informal yang mendorong anak-anak untuk keluar dari kampung halamannya untuk menempuh pendidikan lanjut.
Menurut Rommi gagasan sekolah informal ini berawal ketika ia menjadi awardee BAKTI NUSA -di mana ia belajar mengenal Transformative EduAction- serta Kepala Divisi Kolaborasi dan Implementasi di Gebrak Indonesia (himpunan mahasiswa jurusan di Institut Teknologi Bandung (ITB)). Jebolan Teknik Mesin ITB ini menuturkan, ia didorong keresahan melihat ketimpangan kualitas pendidikan antara perkotaan dan pedesaan. Baginya, menjadi mahasiswa berarti memegang tanggung jawab untuk berkontribusi kepada masyarakat.
“Dari jurnal yang diterbitkan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) berjudul Starting Unequal: How’s Life for Disadvantaged Children? Saya belajar memahami bahwa kemampuan ekonomi orang tua dapat memengaruhi kemampuan kognitif anak,” kata Rommi. “Hanya 3 dari 10 anak Indonesia yang memiliki akses ke pendidikan tinggi, dan lebih dari setengahnya berasal dari keluarga di kelompok ekonomi 20% terkaya di Indonesia. Ditambah lagi, anak-anak yang tinggal di kota memiliki kesempatan dua kali lebih besar dibanding yang tinggal di desa untuk berkuliah, saya mencoba mengubah realitas tersebut,” tambahnya.
Rommi mengaku sangat bersyukur hidup di lingkungan perkotaan dengan exposure pendidikan baik meskipun keadaan ekonomi keluarga tidak stabil. Orang tuanya sendiri semangat menyekolahkannya setinggi mungkin, kendati keduanya perantau dari Pulau Sumatra lulusan SMP dan SMA. Kesenjangan pendidikan di depan mata dan semangat orang tuanya itu memotivasi Rommi untuk serius mendukung pendidikan anak desa. Berbekal pengalaman mengajar anak-anak di pelosok Bandung sejak tahun pertama di bangku kuliah, ia mengajak teman-temannya untuk membuat konsep pembangunan desa.
Saat ini Sakola Kembara telah menyasar beberapa daerah di antaranya Ciililin & Lembang, Bandung Barat; Arjawinangun, Cirebon; Bojong, Purwakarta. Daerah tersebut menjadi sasaran Sakola Kembara karena adanya permintaan dari pemerintah setempat untuk memaksimalkan potensi anak-anak daerah kurang mampu. “Saat ini terdapat 200 siswa yang mendapat manfaat dari program kami, dengan succes rate sebesar 60% yang berhasil masuk ke universitas negeri seperti UGM, Unpad, IPB University, UPI, dan ITB. Hal ini menunjukkan komitmen kami untuk mendukung masa depan semua anak, terlepas dari latar belakang mereka, melalui pendidikan tinggi,” jelas Rommi.
Ia menegaskan akan terus berkomitmen memberikan kesempatan yang adil untuk pendidikan tinggi kepada seluruh anak Indonesia, terutama untuk anak-anak kurang mampu secara ekonomi dan anak-anak yang berasal dari desa agar dapat mengenyam pendidikan tinggi.