Prof-Zulys-Berbagi-inspirasi-bersama-Arwan-dalam-program-besTeam

Kisah Inspiratif dari BesTeam: Dari Arang Jadi Intan, Prof. Zulys Buktikan Yatim Bisa Jadi Guru Besar UI

BOGOR, GREAT EDUNESIA — Siapa bilang keterbatasan adalah akhir dari segalanya? Suasana hangat penuh haru dan semangat juang menyelimuti sesi produksi video inspiratif BesTeam (Bestie-an Sama Yatim) yang digelar pada Senin (6/7/2026).

Episode spesial kali ini mempertemukan dua generasi pejuang mimpi: Prof. Dr. Zulys, Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia, dengan Arwan, siswa beasiswa dari SMART Ekselensia Indonesia—sekolah bebas biaya berbasis asrama yang dikelola oleh GREAT Edunesia.

Lewat obrolan santai namun penuh makna ini, GREAT Edunesia kembali membuktikan bahwa Pendidikan Memberdayakan adalah kunci nyata untuk mengubah jalan hidup generasi muda, khususnya anak-anak yatim dhuafa.

Kehilangan Ayah Bukan Alasan untuk Menyerah

Perjalanan hidup Prof. Zulys bukanlah jalan yang bertabur bunga. Sejak kecil, ia harus tumbuh tanpa sosok pelindung di keluarga karena ayahnya berpulang. Namun, ujian berat di masa kecil justru membentuk mentalnya menjadi sekuat baja.

“Kalau Allah mentakdirkan saya tumbuh tanpa ayah, berarti Allah tahu saya mampu menjalaninya. Pasti ada rencana besar di balik setiap ujian,” ungkap Prof. Zulys mengenang masa kecilnya.

Semangat yang sama kini sedang dijalani oleh Arwan. Siswa SMART Ekselensia Indonesia ini juga harus kehilangan ayahnya saat baru menginjak tahun pertama belajar di sekolah berasrama. Kesedihan itu sempat menjadi ujian terberatnya, namun pertemuannya dengan Prof. Zulys hari ini membuka mata dan hatinya: seorang anak yatim juga punya hak dan peluang yang sama untuk sukses dan menginspirasi dunia.

Berawal dari Penerima Beasiswa, Kini Jadi Guru Besar UI

Dalam sesi BesTeam tersebut, Prof. Zulys mengenang masa-masanya saat berjuang menyelesaikan kuliah S1. Saat itu, beliau juga merupakan salah satu penerima manfaat beasiswa pendidikan dari Dompet Dhuafa.

Ada satu momen ikrar yang tak pernah ia lupakan saat mengikuti sebuah program pelatihan kepemimpinan semasa mahasiswa. Ia pernah bermimpi besar di hadapan teman-temannya:

“Sepuluh tahun yang akan datang, saya akan lulus doktor dari Jerman!”

Kalimat yang dulu dianggap mimpi di siang bolong itu diwujudkan lewat ketekunan luar biasa. Meski awalnya sempat kurang menyukai ilmu Kimia, ia terus belajar hingga akhirnya menuntaskan studi S3 di Jerman dan kini mengabdi sebagai Guru Besar di kampus perjuangan, Universitas Indonesia. Baginya, sains dan agama tidak pernah terpisah; keduanya adalah modal untuk memberi manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat.

Analogi Karbon: Ujian Hidup Pembentuk Mental Intan

Untuk menguatkan tekad Arwan dan jutaan anak muda lainnya di luar sana, Prof. Zulys membagikan sebuah analogi sains sederhana yang sangat menyentuh hati. Ia membandingkan proses kehidupan dengan arang dan intan.

Secara ilmiah, keduanya berasal dari bahan dasar yang sama persis, yaitu karbon murni. Namun, proses yang dilaluilah yang membedakan nilai akhir keduanya:

  • Arang: Berada di permukaan bumi, mudah ditemukan, dan tidak mengalami tekanan berat. Ia memang bermanfaat, namun memiliki nilai yang standar.

  • Intan: Berada jauh di dalam perut bumi, harus menghadapi suhu ekstrem dan tekanan yang sangat tinggi selama jutaan tahun. Hasil dari proses berat itulah yang mengubahnya menjadi batu permata yang sangat kuat, berkilau, dan bernilai tinggi.

“Karbon yang berada jauh di dalam perut bumi menghadapi suhu dan tekanan yang sangat tinggi selama jutaan tahun untuk berubah menjadi intan yang berkilau. Ujian hidup yang kita hadapi dengan sabar, ikhtiar, dan iman adalah ‘tekanan’ yang sedang membentuk kita menjadi intan yang tangguh,” pesan Prof. Zulys.

Pendidikan Memberdayakan untuk Masa Depan Nyata

Kisah pertemuan Prof. Zulys dan Arwan adalah bukti hidup dari filosofi Pendidikan Memberdayakan yang terus dihadirkan oleh GREAT Edunesia. Lewat program seperti SMART Ekselensia Indonesia dan ruang kolaborasi inspiratif BesTeam, kita tidak hanya memberi bantuan pendidikan, melainkan membangun kepercayadirian, kepemimpinan, dan ketangguhan mental bagi generasi penerus bangsa.

Mari kita terus dukung perjuangan anak-anak yatim berprestasi seperti Arwan untuk berani bermimpi setinggi langit. Sebab dari tangan-tangan merekalah, masa depan peradaban Indonesia yang lebih baik akan lahir!

Facebook
Twitter
LinkedIn

Slide
BAKTI NUSA Siap Lepas 57 Penerima Manfaatnya dalam National Mission Bogor – BAKTI NUSA…
Milenial Bangun Sekolah MI Bina Ihsani Kamancing, satu langkah awal majunya pendidikan di Sekolah…
SELEKSI ETOS ID 2023 TELAH DIBUKA! Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh Hai Sobat Etos ID, Para…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *