SUKABUMI — Pendidikan tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan ruang kelas. Pendidikan menemukan maknanya ketika pengetahuan, karakter, dan keterampilan yang diperoleh mampu diubah menjadi aksi yang memberikan manfaat bagi orang lain.
Semangat itulah yang tercermin dalam Social Project Collaboration (SPC) Batch 13 yang dilaksanakan di Kampung Bunisari, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Mengusung jargon “Bersama Bergerak, Bersama Berdampak”, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya membentuk individu, tetapi juga mendorong lahirnya kontribusi nyata di tengah masyarakat.
Melalui program yang diinisiasi oleh Kampus Bisnis Umar Usman (KBUU), mahasiswa belajar untuk menerjemahkan nilai-nilai yang mereka dapatkan selama proses pendidikan ke dalam aksi sosial bersama masyarakat.
Bagi GREAT Edunesia, pengalaman tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana pendidikan dapat menjadi pintu masuk bagi terciptanya perubahan sosial.
Ketika Pendidikan Beranjak dari Ruang Kelas
Selama kurang lebih tiga minggu, mahasiswa bersama panitia SPC Batch 13 terlibat dalam proses pembangunan di Desa Bunisari.
Dua kebutuhan masyarakat menjadi fokus utama, yaitu penyelesaian pembangunan gedung Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) serta pemasangan Penerangan Jalan Umum (PJU) di sejumlah titik prioritas.

Pembangunan PAUD menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan ruang yang mendukung proses tumbuh dan belajar anak-anak. Sementara itu, pemasangan PJU diharapkan dapat memberikan rasa aman dan kenyamanan bagi masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Namun lebih dari pembangunan fisik, proses tersebut menjadi ruang belajar bagi mahasiswa. Mereka berhadapan langsung dengan kebutuhan masyarakat, belajar berkomunikasi dengan berbagai pihak, menyusun pembagian tugas, mengelola kegiatan, menyelesaikan tantangan di lapangan, dan memahami bahwa sebuah program sosial membutuhkan kolaborasi agar dapat memberikan manfaat.
Inilah pendidikan yang bergerak dari teori menuju praktik.
“Pendidikan yang berdampak adalah pendidikan yang mendorong seseorang untuk tidak hanya berkembang bagi dirinya sendiri, tetapi juga memiliki kepedulian dan keberanian untuk menghadirkan manfaat bagi lingkungan. Melalui Social Project Collaboration, mahasiswa mendapatkan ruang untuk mempraktikkan nilai tersebut secara langsung bersama masyarakat.”
— Direktur Kampus Bisnis Umar Usman
Dua Hari yang Mempertemukan Pendidikan dan Kebersamaan
Setelah melalui proses pembangunan selama kurang lebih tiga minggu, rangkaian SPC Batch 13 mencapai puncaknya pada 1–2 Agustus 2026.
Hari pertama menjadi ruang interaksi antara mahasiswa dan masyarakat melalui berbagai kegiatan kebersamaan. Fun games dan perlombaan edukatif menghadirkan suasana yang lebih dekat dan cair. Anak-anak Desa Bunisari kemudian mendapatkan kesempatan mengikuti Fun Learning, sebuah kegiatan belajar sambil bermain yang dirancang untuk mendorong kreativitas, keberanian, dan semangat belajar.


Di sini, pendidikan hadir dengan cara yang sederhana.
Bukan melalui ruang kelas formal, melainkan melalui permainan, interaksi, dan pengalaman. Mahasiswa tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga mengambil peran sebagai fasilitator yang berbagi energi positif dengan anak-anak. Malam harinya, kebersamaan berlanjut melalui Pentas Seni. Berbagai pertunjukan, permainan interaktif, pembagian hadiah lomba, dan doa bersama menjadi penutup rangkaian hari pertama.
Satu hal yang terasa dari seluruh rangkaian tersebut adalah bahwa masyarakat tidak ditempatkan sebagai objek kegiatan. Mereka menjadi bagian dari proses, berinteraksi, berkolaborasi, dan ikut membangun pengalaman bersama.
Meresmikan Hasil, Menjaga Manfaat
Hari kedua diawali dengan momentum peresmian hasil pembangunan.
Jajaran Kampus Bisnis Umar Usman, Pemerintah Desa Bunisari, tokoh masyarakat, serta mitra kolaborasi hadir untuk menyaksikan secara langsung fasilitas yang telah diselesaikan. Peresmian gedung PAUD dan PJU menjadi simbol selesainya satu proses sekaligus dimulainya proses berikutnya: memastikan hasil pembangunan dapat digunakan dan memberikan manfaat secara berkelanjutan.

Bagi GREAT Edunesia, keberhasilan sebuah program pemberdayaan tidak hanya dilihat dari terlaksananya kegiatan.
Yang lebih penting adalah apa yang tersisa setelah kegiatan berakhir. Apakah fasilitas dapat terus dimanfaatkan? Apakah pengetahuan yang dibagikan dapat diterapkan? Apakah masyarakat menjadi lebih berdaya? Dan apakah pengalaman tersebut mampu membentuk individu yang semakin peduli terhadap lingkungan sosialnya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian penting dalam melihat makna sebuah program pendidikan yang berdampak.
Menjaga Masyarakat, Dimulai dari Kepedulian
Semangat pemberdayaan juga diwujudkan melalui layanan cek kesehatan gratis bagi masyarakat.
Berkolaborasi dengan Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa, masyarakat mendapatkan pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, konsultasi dengan tenaga medis, hingga pembagian vitamin sesuai kebutuhan.
Layanan ini menjadi pelengkap dari rangkaian program di Bunisari. Jika pembangunan PAUD berbicara tentang masa depan anak-anak dan PJU berbicara tentang keamanan serta kenyamanan lingkungan, maka layanan kesehatan menjadi bentuk kepedulian terhadap kualitas hidup masyarakat hari ini. Kolaborasi lintas program tersebut memperlihatkan bahwa pemberdayaan tidak dapat dilihat dari satu sisi. Pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan aspek sosial lainnya saling berkaitan dalam membangun masyarakat yang lebih berdaya.

Dari Mahasiswa, Tumbuh Nilai untuk Masyarakat
Bagi mahasiswa yang terlibat, SPC Batch 13 bukan hanya pengalaman menjalankan sebuah program.
Ada proses pembelajaran tentang kepemimpinan, komunikasi, kerja sama, tanggung jawab, dan kepekaan sosial.
“Kami belajar bahwa membuat sebuah kegiatan bukan hanya tentang bagaimana acara berjalan dengan baik. Ada proses memahami kebutuhan masyarakat, berkomunikasi, bekerja sama, dan memastikan apa yang kami lakukan benar-benar memiliki manfaat. Pengalaman di Bunisari membuat kami melihat bahwa dampak membutuhkan proses dan keterlibatan banyak orang.”
— Perwakilan Panitia SPC Batch 13
Nilai tersebut sejalan dengan semangat pendidikan yang ingin terus dikembangkan dalam ekosistem GREAT Edunesia: pendidikan yang membuka kesempatan bagi seseorang untuk bertumbuh sekaligus mendorongnya untuk menjadi bagian dari solusi. Mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk memiliki kompetensi, tetapi juga untuk memiliki kepedulian dan keberanian mengambil peran.
Kolaborasi yang Menguatkan Dampak
SPC Batch 13 dapat terlaksana melalui keterlibatan berbagai pihak.
Pemerintah Desa Bunisari, Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa, serta Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa turut memberikan dukungan dalam proses pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.
Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa dampak yang lebih luas membutuhkan kerja bersama.
Kampus membawa mahasiswa dan proses pendidikan. Masyarakat membawa pengetahuan tentang kebutuhan di lingkungannya. Pemerintah desa menjadi bagian penting dalam penguatan program di tingkat lokal. Sementara lembaga dan mitra kolaborasi memperkuat dukungan melalui sumber daya serta layanan yang dimiliki.
Ketika berbagai elemen tersebut bergerak dalam satu tujuan, pendidikan dapat menjadi lebih dari sekadar proses transfer pengetahuan.
Pendidikan dapat menjadi energi untuk pemberdayaan.

Karena Pendidikan Seharusnya Meninggalkan Jejak
Rangkaian SPC Batch 13 di Desa Bunisari akhirnya selesai.
Namun jejak dari proses tersebut diharapkan terus hidup melalui fasilitas yang digunakan masyarakat, pengalaman yang dibawa mahasiswa, serta hubungan kolaboratif yang telah terbangun.
Sebuah gedung PAUD mungkin terlihat sebagai hasil pembangunan secara fisik. PJU mungkin hanya terlihat sebagai lampu yang menerangi jalan. Pemeriksaan kesehatan mungkin hanya berlangsung beberapa menit.
Tetapi di balik semua itu terdapat sebuah proses yang lebih besar: orang-orang yang memilih untuk bergerak bersama agar orang lain mendapatkan manfaat.
Bagi GREAT Edunesia, inilah salah satu wajah pendidikan yang berdampak.
Pendidikan yang tidak berhenti pada pencapaian individu, tetapi mendorong lahirnya kontribusi.
Pendidikan yang tidak hanya bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan?”, tetapi juga “Apa yang bisa saya berikan?”
Dari Desa Bunisari, semangat itu kembali menemukan bentuknya.
Bersama bergerak. Bersama berdampak. Karena ketika pendidikan melahirkan kepedulian dan kolaborasi, perubahan dapat dimulai dari mana saja.