55 Calon Penerima Beasiswa Aktivis Nusantara Kuatkan Aksi Nyata Lewat Belanja Inspirasi bersama Rian Fahardhi

55 Calon Penerima Beasiswa Aktivis Nusantara Kuatkan Aksi Nyata Lewat Belanja Inspirasi bersama Rian Fahardhi

Bogor – Menggerakkan aksi nyata yang memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat, Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA) kembali menggelar Sustainable Leaders Challenge (SLC) daring hari kedua bersama Rian Fahardhi, Presiden Gen Z dan Founder Distrik Berisik.

 

Dalam pemaparannya, Rian Fahardhi menekankan pentingnya memimpin dengan empati agar generasi muda tak sekadar merasa. Menurutnya empati adalah kemampuan merasakan, lalu menanggapi dengan tanggung jawab dengan mendengar lebih dulu, bergerak bukan buat diri sendiri, dan fokus ke keberlanjutan bukan hanya spotlight.

 

Mengusung tema Sustainable Leadership for Meaningful Impact, SLC menekankan pada pengembangan kepemimpinan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian jangka pendek, tetapi mampu menciptakan dampak yang berkelanjutan dan bermakna bagi masyarakat, lingkungan, dan bangsa.

 

Melanjutkan materinya, Rian menekankan, tantangan bukanlah halangan tetapi menjadi pendorong keberanian. Baginya keberanian ialah faktor utama bagi generasi muda menjadi generasi berkualitas, karena sepintar apapun pemuda jika tak memiliki keberanian maka tak akan ada artinya.

 

SLC merupakan rangkaian kegiatan orientasi dan internalisasi program serta pengukuhan calon penerima BAKTI NUSA yang lolos seleksi nasional. SLC menjadi ajang pengembangan kemampuan kepemimpinan calon penerima manfaat BAKTI NUSA.

 

Di hadapan 55 calon penerima BAKTI NUSA Angkatan 15 dari 15 kampus besar Indonesia (USU, UNAND, UNSRI, UI, IPB, ITB, UNPAD, UNS, UGM, ITS, UNAIR, UB, UNHAS, UNUD, UNDIP), Rian menyampaikan bahwa perubahan sosial tidak lahir dari orang paling lantang, tapi lahir dari mereka yang paling setia menjaga nilai. Ia menerangkan, kepemimpinan bukan tentang seberapa cepat kita sampai tetapi seberapa banyak orang yang akhirnya bisa tetap berjalan bersama.

 

 

Menutup gelar wicara, Rian berpesan, empati memang penting tetapi tidak cukup karena harus bertemu keberanian untuk mengambil keputusan, kerendahan hati untuk membangun peran, dan konsisten untuk membangun budaya. “Pada akhirnya organisasi yang bertahan bukan yang paling hebat pemimpinnya, melainkan manusianya terus bertumbuh. Leadership is not about how many people you control, but how many you inspire. Empathy is how we connect. Action is how we lead,” tutupnya.

Facebook
Twitter
LinkedIn

Slide
BAKTI NUSA Siap Lepas 57 Penerima Manfaatnya dalam National Mission Bogor – BAKTI NUSA…
Apresiasi National Mission 2021, Anies Baswedan: “Sebuah Semangat yang Amat Baik” Bogor – Apresiasi…
Will it be Worth It? Will it be Worth It? – Long story short,…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *